Mengenal gitaris Havinhell Ajeng, si cewek punk penyayang kucing

Mengenal gitaris Havinhell Ajeng, si cewek punk penyayang kucing

Mengenal gitaris Havinhell Ajeng, si cewek punk penyayang kucing

sleepless-berlin.com - Havinhell adalah band asal Yogyakarta yang beraliran pop punk. Band pop punk ini terbentuk pada tahun 2009 lalu. Personelnya terdiri dari Ika Zidane (vokal), Diajeng Budi Cahyani (gitaris) dan Aries Ebo (drummer).

Biasanya band pop punk identik dengan barisan laki-laki sangar sebagai personelnya. Uniknya, Havinhell justru dipimpin seorang wanita.

Pada Selasa (20/3), brilio.net menemui gitaris Havinhell, Diajeng Budi Cahyani (27) di Shine Cafe Yogyakarta. Wanita yang akrab disapa Ajeng tersebut datang dengan motor trail sangarnya. Ia tampil santai dengan sneakers, kaus dan jaket. Ia berbagi cerita tentang dunia wanita dan punk sambil duduk santai menikmati segelas teh.

Sebelumnya, wanita asal Rembang ini sempat kuliah di jurusan musik UNY. Namun ia kini pindah kuliah disebuah universitas swasta karena suatu alasan.

Wanita vegetarian itu bergabung di Havinhell sejak pertama kali dibentuk di Yogyakarta. Ketika bergabung dengan Havinhell, ia langsung didapuk sebagi gitaris. Sejak saat itu, citra Ajeng sebagai wanita punk semakin melekat.

Ajeng sudah aktif mendalami dunia musik sejak kecil. Awalnya ia belajar bermain keyboard. "Dulu tuh belajar main musik malah di keyboard. Terus minta dibeliin (keyboard). Tapi dulu tuh ada syaratnya, harus dapat ranking di kelas baru dibeliin (keyboard). Kebetulan dapet ranking, dibeliin keyboard deh," jelas Ajeng.

Ajeng kecil sadar punya ketertarikan besar terhadap dunia musik, sekalipun latar belakang keluarganya tidak ada yang mendalami musik. Ajeng juga mulai belajar bermain gitar. Belajar gitar dilakukannya secara otodidak, sementara keyboard dengan les.

"Jadi waktu SD nyisain uang saku, sisanya tiap minggu buat beli majalah musik itu. Jadi memang belajarnya dari majalah, otodidak," jelas Ajeng.

Memasuki SMP dan SMA, Ajeng mulai membuat band sendiri. Ia didapuk menjadi gitaris dan kerap tampil dalam beberapa acara. Alhasil ketika menginjak bangku kuliah, Ajeng memilih jurusan musik.

Kuliah jurusan musik di UNY, membuat Ajeng makin dalam menekuni musik. Namanya sebagai gitaris Havinhell sekaligus cewek punk semakin kuat.

Punk sendiri kerap dikaitkan dengan orang jalanan dan bebas yang berkonotasi negatif. Menanggapi anggapan masyarakat demikian, Ajeng tidak mau ambil pusing.

"Punk sendiri kan sebenarnya ideologi kan yang kontra terhadap kemapanan segala macem, salah satu penyalurannya kan dengan musik punk ini. Kalau kata orang punk begini begitu, oh berarti dolannya kurang adoh. Jadi pengetahuannya tentang itu (punk) harus baca lagi deh," ujar Ajeng.

"Mau cewek atau cowok kan punya hak sama mau bawain (musik) apa aja. Ngelakuin banyak hal kalau terbatas kamu cewek kamu cowok nggak akan kemana-mana. Menurutku nggak ada perbedaan gender sih untuk menentukan kamu suka musik apa," tambah Ajeng.

Dalam berkarya, Ajeng banyak terinspirasi dari musisi luar negeri, Avril Lavigne. Ia sangat menyukai musisi itu baik dari cara bermusiknya maupun gayanya. Penampilan Avril Lavigne yang tomboy juga cocok dengan stylenya.

"Kebetulan aku dari kecil kan tomboy. Nggak terlalu suka pakai rok. Paling pakai rok buat kondangan aja," terang Ajeng.

Ajeng juga merupakan fans band punk rock Superman Is Dead (SID). Sebelum bergabung dengan Havinhell, dia sudah mengumpulkan kaset band tersebut. Tak disangka setelah bergabung dengan Havinhell, Ajeng bekesempatan berkolaborasi dengan SID.

Ajeng berkolaborasi bersama SID dalam lagu Sunset di Tanah Anarki. Ajeng menjadi additional vokal saat band itu tampil langsung.

Selain menjadi musisi, wanita yang hobi mendaki gunung ini juga aktif kegiatan sosial. Beberapa kali ia kerap mengawal isu Kendeng dan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA). Ajeng bersama bandnya kerap di undang melakukan aksi. Mereka biasanya berkontribusi menyumbangkan lagu untuk penyemangat massa.

Melalui kegiatan sosial, wanita yang berasal dari Rembang itu semakin menyadari bahwa wanita ternyata memiliki andil yang besar. Tidak hanya di bidang musik, Ajeng beranggapan bahwa wanita bisa melakukan apapun.

"Cewek sama cowok berkarya melalui genre apapun sebenarnya itu hak mereka. Jadi anggapan cewek nggak boleh ini itu tolong dihilangkan dulu. Udah nggak zamannya deh cewek aneh berbuat gini gitu," ujar Ajeng.

Kerap tampil sangar, ternyata Ajeng punya sisi lain yang tidak banyak orang ketahui. Ajeng ternyata suka menulis puisi. Ia juga penyayang kucing. "Kalau di mana pun ketemu kucing mau kucing apapun, aku selalu suka," pungkas Ajeng sambil memanggil seekor kucing yang melintas di dekatnya.